February, 2007

Ketika Cinta Teramat Menyakitkan..

Sayang..
Dimalam ini, izinkan aku menangis atas
apa yang terjadi hari ini.
Hanya kali ini saja, tidak besok, tidak
juga lusa.
Meski luka yang menikam ini akan
semakin menyesak bahkan membunuhku,
tapi aku ingin merasakan hangatnya air
mataku ini..

Sayang..
Hanya malam ini saja, izinkan air
mataku tumpah
dalam lembar-lembar sejarah kehidupanku
ini.
Aku tahu pasti, bahwa air mata ini
hanya akan menambah sesak
bahkan mungkin juga akan mengubur
diriku ini,
tapi aku ingin mengeluarkan rasa sedih
dan pahitnya perasaan yang mengurung
hati ini..

Sayang..
Kita pernah berbagi tawa..
Kita pernah berbagi canda..
dan kita juga pernah berbagi duka..

Namun, baru kusadari bahwa cinta datang
dan pergi begitu saja,
Akhirnya melebur tertiup debu
keegoisan..

Sayang,
Rasa sakit ini hingga membuatku tak dpt
menangis lagi..
Dimanakan aku yang dulu?
Yang mampu tertawa lepas..
Yang dapat cinta begitu besar..
Yang mampu dendangkan syair bahagia..

Aku hanya wanita yang ingin disayangi
Aku hanya butuh cinta bukan kebohongan
semata
Haruskah ego lebih berharga dari diriku?
aku disini hanya bisa menyimpan tanya
apakah KAU PEDULI DGKU ?
atau KAU HANYA BERMAIN DGKU ?

Baiklah…
Aku akan hidup dengan caraku sendiri
Aku ingin ketika kau pergi..
Semuanya berubah indah..
Tak ada kekecewaan..

Trimakasih kau tlh mengajariku arti
kesabaran, pengorbanan,
pengertian, dan arti cinta
sesungguhnya..
Ku tak bisa sepertimu yang punya beribu
cara tuk jadikan cerita selalu indah..
Akan ku coba semampuku..
doakan aku…
hingga aku tak kuasa ucapkan maaf..

Saat ini harus kuucapkan selamat
tinggal..

Malang, 25 Feb 2007 ; 18:27:51
Ketika cinta teramat menykitkan..

Ya Rabby, Kuatkan Hambamu Ini..

Hidup ini adalah perjalanan waktu..

Yang kita tak slalu pasti menebak akhir kisahnya..

Semua pasti akan terjawab seiring berjalannya waktu..

Entah itu akhir yang indah ataupun yang menyedihkan..

Keegoan selalu membekukan suatu jalinan yang sudah terikat..

Membuat itu kembali tak bisa dipersatukan..

Mengapa dipertemukan jika akhirnya terpisahkan?

Mengapa dipersatukan apabila nantinya hanya perih yang kurasa?

Kembali peradilan waktu yang berkuasa menjawab ini semua..

Kali ini kekejamannya yang aku dapati..

Cinta yang aku agung-agungkan akhirnya meluruh..

Menjadi puing yang melebur..

Dan tertiup debu keegoisan..

Membuatku terkapar dari singgasana yang teramat mulia..

Kembali aku mulai meragukan kekuatan cinta..

Yang khalayak ramai begitu memujanya karena karena kekuatannya..

Tapi mengapa kekuatan itu tidak dapat membunuh egoisme..

Sudah kucoba mencintaimu setulus hatiku..

Tapi aku sadar..

Setiap individu memiliki prinsip yang tak bisa kupaksakan..

Aku hanya bisa berkata..

Lihatlah nanti diakhir dunia, apakah aku salah?

Percuma bilang cinta,

jika tak mampu berkorban untuk oang yang kita cintai

Ah,sudahlah..

Aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan..

Jalanku masih panjang..

Terimakasih kau begitu indah mengisi hatiku..

dan kau begitu cantik dalam permainanmu..

Ku akan tetap memujamu dengan cinta yang pernah kumiliki..

Tapi ku tak kan pernah fikirkan ketika kau menyakiti hatiku..

Ya Rabby, kuatkan hambamu ini…

Ya Rabby, rintik hujan ini menerpaku dalam cintanya..

Hari ini angin rindu datang berhembus, menggugurkan daun-daun yang sudah menguning. Titik air di ujung daunnya pun akhirnya terjatuh setelah sekuat tenaga ia bertahan untuk tidak pecah. Tapi ternyata semua ada batasnya. Tak ada yang abadi. Begitu juga dengan rindu ini. Tak akan lama bertahan sembunyi dalam gua hati.

Dunia seperti berputar kembali, menayangkan rekaman saat-saat aku bersamanya. Masa dimana sangat aku rasakan sayang dan perhatiannya, yang terus menerus mengalir seolah tak kenal muara. Pelukannya saat aku butuh kehangatan, suara lembutnya saat hati ini dilanda kegundahan. Dengan sepenuh hati dia merelakan dadanya untuk tempatku bersandar kala sakit menyerang tubuhku, atau saat aku menahan perihnya hati ini saat terluka.

Langit hari ini masih cerah. Tapi siapa sangka kalau hujan akan datang. Meski tidak begitu deras, tapi bisa melepas dahaga sang tanah yang memang haus akan air, cukup untuk membuat suasana terasa lebih segar. Mencerahkan kembali fikiran-fikiran yang kalut terhadap berbagai persoalan dunia. Dan bagiku, membawa kembali pada keindahan dan kehangatan saat-saat bersamanya, hingga rindu yang terbendung pecah seketika.

Teringat pada suatu senja, ketika aku akan memulai hidup tanpa ada seseorang yang dekat di sisiku. Hari itu, adalah hari terakhir aku bersama dengannya sebelum kami berpisah. Pesan dan nasehat pun mengalir dengan suaranya yang tetap lembut. Sampai akhirnya detik itu datang juga, saat ku rengkuh tangan kekarnya, kemudian mengecup tangannya dengan penuh rasa hormat, dia membalasnya dengan kecupan di keningku, tanda bahwa rasa sayangnya melebihi kekhawatirannya meninggalkanku sendiri. Dalam ku rasakan deburan cintanya yang kuat dan tulus. Membuat air mata ini ingin segera menumpahkan segala yang dipunya. Tapi itu tak kulakukan di depannya. Aku harus tunjukkan bahwa aku baik-baik saja tanpa ada dia di sisiku. Cukup pada Allah sajalah dia menitipkan aku. Tak ingin mengganggu konsentrasinya karena aku.

Saat itu aku merasa menemukan serpihan diriku di dalam dirinya. Saat hujan turun dan mengeluarkan suara rintiknya yang lembut menyejukan. Entah apa yang merasuki hatiku tapi rasanya seperti melihat ketenangan dari matanya yang menerawang. Aku seakan menggapai dirinya dalam kalbuku, seakan aku tahu apa yang ada di dalam pikirannya. Hari itu, malam itu, aku seperti mengenalnya sejak dulu. ersenyum aku jika teringat malam itu. Akankah senja itu kembali? Aku tak tahu.

Pernah jemarinya menggengam jemariku, rasanya bukan melambung tetapi menenangkan. Hatiku, cintaku tidak terbang mengawang tetapi tetap di tanah dan melihat tinggi ke awan. Mengagumi keindahan langit karena jika aku dilangit aku tak tahu keindahan langit. Ia mengajarkanku kesederhanaan. Dari sekian lama yang kuperoleh hanya kepalsuan material yang membosankan dan fana. Tapi lain dengan cinta yang ia tawarkan. Ia menawarkan cinta yang jujur. Tapi mengapa hatiku ini tetap tak mau menyerah. Ketidakpercayaan terus menggerogoti hatiku.

Aku takut hatiku mati habis digerogoti ketidakpercayaan yang semu. Aku takut aku tidak lagi bisa mencinta. Aku takut aku tidak lagi bisa percaya. Akankah Ia menunggu hatiku untuk mencair dari kebekuan rasa curiga? Sampai kapan ia mau menunggu? Aku tak mau ditinggal sendiri. Ini terasa menyedihkan. Menyayat. Terasa menjadi pendosa karena memalingkan wajah dari cinta. Begitu egois sehingga diterlantarkan. Sendiri. Aku takut. Aku tak mau. Betapa inginnya hati ini menyerahkan serpihan intannya tetapi bagian diriku tidak mengijinkannya. Apakah ini jeritan hati nuraniku yang tak lagi kudengar?

Pernah saat matanya mengawang kosong dan wajahnya tampak lusuh. Seperti ada yang terbebani dalam kalbunya. Ingin kuusir rasa penatnya. Ingin kurangkuh dia dalam dekapku. Ingin kuhibur. Saat penatnya datang. Kutatap wajahnya. Kunikmati tiap relung pikirnya. Kunikmati keluasaan kalbunya. Saat ia tersadar, kutatap matanya lekat. Tanpa tahu apa yang sedang aku pikirkan. Ia akan tesenyum. Tersenyum. Hanya itu yang kucari dalam dirinya. Agar ia bahagia dan tersenyum.

Entah apa yang dia lihat dari diriku. Aku merasa kecil jika dibanding dengan yang lain. Aku tak percaya dia menyerahkan hatinya untukku jaga. Apakah aku pantas menjadi dewi yang menjaga hatinya? Bagaimana jika aku memecahkan hatinya yang bening itu? Aku takut. Aku tak pantas. Betapa bodohnya aku ini! Mengapa aku tak bisa sekali saja jujur terhadap perasaanku sendiri!

Tuhan, ternyata cinta begitu dekat denganku. Kasih dan pengorbanannya untukku takkan pernah bisa kubalas meski dengan tetesan darah dan airmata. Segala yang aku miliki dalam hidup ini, materi yang aku punya atau kehidupan yang aku miliki, pun tak kan bisa membalas apa yang pernah dia lakukan untukku. Usapan tangannya, pelukan hangatnya, suara lembutnya, sikapnya yang bijak, tak akan pernah tergantikan dengan seluruh yang ada di langit dan bumi ini.

YA RABBY, AKU INI SEDANG JATUH CINTA..!!

Special to : Letda Mar Teguh Pranoto,terimakasih kau begitu indah  mengisi hatiku…