April, 2007

Mengapa Allah membiarkanku sendirian ?…..

Semalem aku mendapatkan sms dari seseorang yang dulu pernah menjadi teman dalam suka dan duka. Seorang Ikhwan/ laki-laki  tentunya, sebut saja namanya “PRANTZ”. Dulu..dia adalah tempatku mengadu, CURHAT, mengkonsultasikan permasalahan yang aku hadapi. Jujur..aku sangat membanggakan dia..bersahaja, lembut, tenang, sederhana. Yang paling utama adalah….karena dia selalu bersedia untuk mendengarkan dengan sabar..memberikan penjelasan dan pandangan dengan dewasa..tanpa menyalahkan..apalagi menghakimi. Dia seperti kakak bagiku..dan bahkan dulu aku sempat berharap dia akan menjadi arjuna terakhir dalam hidupku..

Tapi….ah……aku merasa…begitu kecewa…..semuanya tidak seperti yang aku harapkan. Aku merasakan suaranya tidak lagi seramah dulu..perkataan yang  tiak sebermakna dulu..dia seperti tidak terlalu merespon akan perkataan yang aku sampaikan.  Sehingga rasanya aku seperti berbicara bukan dengan seseorang yang pernah aku cintai..

Ya Rabby..mengapa orang yang dulu pernah aku banggakan..sebagai orang yang dulu aku sayangi dan cintai kini telah berubah.  Seakan kini ada rentang jarak diantara kami. Dia dulu adalah tempat diri ini menggantungkan diri..menyampaikan segala beban yang ada dalam jiwa ini.  Sampai detik ini aku masih sangat membutuhkan nasihat-nasihatnya yang tulus.

Ah…….mengapa bisa terjadi seperti ini?…

Dalam perenungan…kini aku berusaha untuk mengambil HIKMAH dari semua ini..yach..HIKMAH. Ini barangkali hal yang coba harus aku tanamkan dalam jiwa ini. Pasti ada hikmah dibalik semua ini. Hikmah besar dari Allah SWT yang tentu untuk kebaikan diri ini.

Satu hal yang pasti,..Insya Allah dia masih tetap orang yang baik..dia masih saudara yang baik..mungkin masalahnya bukan dari dia..tapi justru dari diriku sendiri..mungkin karena penurunan ruhani dan beban permasalahan dalam diri inilah yang kemudian aku merasa dia seperti menjauhiku.

Hikmah yang barang kali ingin Allah ajarkan pada diri ini adalah :
1.   Supaya aku tidak lagi terbiasa menggantungkan diri ini pada orang lain…dan aku hanya boleh bersandar dan menggantungkan diri hanya kepada ALLAH SWT semata.
2.   Supaya aku bisa lebih dewasa..mandiri..berani menentukan dan mengambil sikap..tegas..tidak plin-plan..mantap dan berani dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena semua  itulah hal yang paling dibutuhkan dalam mengarungi hidup ini.

Ia……Insya Allah..aku akan berusaha menarik hikmah dari semua ini.

AKU  HARUS MEMPERBAIKI KUALITAS IBADAHKU…karena semua kegelisahan bersumber dari diriku sendiri. Sehingga ketika kualitas ibadah sudah semakin baik..diri akan semakin dekat dengan-Nya…yang pada akhirnya..kepasrahan atas takdir  Sang Maha Kuasa akan tertanam dalam Jiwa.  Kedamaian..Ketenangan akhirnya akan bersemayam dalam jiwa ini.

Semuanya memang  harus berawal dari TEKAD KUAT dalam diri ini,  untuk MEMPERBAIKI KUALITAS IBADAH dan KEDEKATAN pada-NYA. Jika ini belum berhasil dilakukan..percuma saja kita berkonsultasi pada orang lain..sesolih apapun dia..karena yang  memutuskan tetap lah diriku sendiri..dan jika yang  bermain adalah : EMOSI dan  NAFSU, …pasti semua pendapat orang lain…itu tidak akan bermakna apapun.

Ya Rabb….bimbinglah hambamu ini..tunjukilah hamba untuk tetap berada dalam jalan Mu yang lurus.  Aku berjanji pada-Mu…..mulai saat ini…aku hanya akan bersandar dan bergantung pada-Mu….bukan pada makhluk-Mu…….. Sip, mantap! Sip, mantap! Sip, mantap! Sip, mantap!

Aku adalah aku…

Assalamualaikum…

Wahai engkau yang bersemayam dalam rongga dadaku, siapapun adanya dirimu, ijinkan aku menggangu damai kesendirianmu. Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu, cerita tentang aku dan apa yang ada dalam diriku, cerita tentang kesempurnaan dan makna ketidak sempurnaan, termasuk berbicara tentang makna cinta, setidaknya tentang makna cinta yang bisa ku mengerti. Aku tidak memintamu untuk mendengarkan apa yang terdengar dari bibirku, aku hanya meminta engkau merasakan makna yang bersemayan dalam ruh ku ketika engkau mendengar ceritaku. Aku tidak meminta engkau untuk mau mengerti, aku hanya meminta ijinmu supaya aku dapat mengerti tentang dirimu, lewat cerita tentang diriku.

Aku adalah aku. Aku bukan orang lain dan tidak seperti orang lain. Memang seringkali aku ingin berubah menjadi sosok orang lain yang kuanggap lebih dari diriku, tapi begitu aku mulai melangkah untuk bisa menjadi orang lain, aku selalu dan selalu gagal. Kadang disatu sisi aku berhasil menjadi orang lain, dan di satu sisi yang lain, aku tetaplah diriku sendiri. Aneh memang, ketika aku berubah menjadi sosok yang lain walau hanya sedikit sisi saja, justru tidaklah seindah dan senyaman yang dibayangkan, justru yang ada hanyalah kesedihan, kegundahan, ketertekanan dan rasa tak terdepinisi lainnya. Akhirnya aku sadar, jika aku adalah aku dengan segala keunikannya, aku tidak akan pernah bisa menjadi orang lain, seperti halnya orang lain tidak akan pernah bisa menjadi diriku.

Aku adalah Aku dengan segala sisi dan pernak perniknya. Ada sisi positip juga banyak sekali sisi negatip nya. Kesimpulannya, dalam sosok diriku tergambar dua buah hal yang terkandung dalam jiwa yang sama, kelebihan dan kekurangan. Terkadang aku begitu gembira ketika saatnya sisi positipku yang muncul kepermukaan, seperti gembiranya sang bumi ketika tiba saatnya sang mentari menyingkap tabir gelap sang kuasa malam. Terkadang aku begitu sedih dan gelisah ketiba saat sisi negatip dan kelemahanku yang mendominasi jiwaku, seperti sedihnya sang bumi ketika sang surya harus tenggelam dan berganti kuasa sang kegelapan.

Kadang aku berpikir, mengapa tidak hanya sisi positip yang ada dalam diriku ?, Bagaimanakah caranya aku memusnahkan segala sisi negatip yang bersemayan dalam bagian jiwaku ?. Sempurna, itu barangkali ungkapan yang paling tepat ketika kita memiliki hanya sisi positip. Tahukan engkau saudaraku, semakin aku berambisi menuju titik kesempurnaanku, justru semakin aku sadar betapa menggunungnya kelemahanku, aneh memang. Akhirnya aku harus mengalah dan berdamai dengan takdir penciptaanku, jika aku memang tidak akan pernah menjadi sempurna, tidak akan dan tidak akan pernah. Ketidaksempurnaan adalah sebuah aksioma yang tidak perlu diperdebatkan, karena itu adalah otoritas dan milik Sang Maha Pencipta.

Sekali lagi, itu dulu, dulu ketika ambisi menuju titik kesempurnaan diriku tidaklah terbingkai oleh pemahaman akan sipat kemanusiaanku dan hakikat penciptaanku. Tahukah engkau, ketika ambisi kesempurnaanku mencapai masa kejayaannya, aku bukan hanya berharap akan adanya kesempurnaan dalam diriku semata, tetapi juga sebuah ambisi untuk melihat dan mendapatkan kesempurnaan yang sama dari orang lain. Dengan kata lain, ketika ambisi kesempurnaan itu melingkupi sang ruh, kita senantiasa melihat orang diluar kita sangatlah jauh dari kata kesempurnaan, tidak seperti kesempurnaan yang kita angankan. Tahukah engkau apa yang selanjutnya terjadi ?, aku kecewa ketika ternyata aku justru semakin terpuruk dengan ketidaksempuranaanku, dengan tumpukan kelemahan dalam jiwaku yang semakin menjulang tinggi. Disisi yang lain, muncul kekecewaan ketika kita hanya bisa melihat ketidak sempurnaan yang sama pada orang lain diluar diri kita, yang sangat kita dambakan kesempurnaannya.

Apapun dan bagaimanapun yang terjadi dan bergolak dalam pengembaraan ruh dan jiwa ku, sudah sebuah kepastian jika roda waktu akan terus berputar, seperti keniscayaan berputarnya sang bumi mengitari kuasa sang surya. Suatu waktu, Sang Maha Kuasa menunjukan kasih sayangnya kepadaku, dengan menunjukan padaku tentang betapa menggunungnya kelemahanku, betapa lemahnya diriku, betapa banyaknya sisi negatipku….betapa dan betapa tidak sempurnanya aku. Ruh dan jiwaku pun kemudian mengkerut, seperti halnya daun putri malu yang mengkerut ketika ada sebuah tangan yang menumbuk permukaannya. Ruh dan jiwaku seakan terus dan terus mengkerut, mengkerdil seakan tak kuasa lagi untuk mengangkat dada tanda keangkuhan dan ambisi yang menggelora akan sebuah kata kesempuraan. Aku terdiam dan terdiam, aku merenung dan merenung. Aku merintih walau tanpa suara, aku menangis, aku menjerit walau hanya dalam hati.

Dan kini, seiring dengan pergantian malam menjadi siang, seperti halnya tanah kering yang berubah menjadi basah oleh tetesan sang air hujan, bersama dengan terus berdetaknya sang waktu, membuatku semakin tersadar akan siapa adanya diriku dan betapa tidak sempurnanya diriku. Sejak itu, aku bisa lebih bijak dalam memandang kehidupan, memandang makna kesempurnaan dan ketidak sempurnaan, tentang siapa adanya diriku dengan segala sisinya dan memandang orang lain juga dengan berbagai sisi dan ketidaksempurnaannya.

Aku adalah aku dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan itulah pertanda ketidaksempurnaanku sebagai makhluk. Dan orang lain adalah orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya, dan itulah pertanda ketidaksempurnaannya sebagai makhluk. Aku sebagai makhluk tidak sempurna dan engkau juga makhluk yang tidak sempurna.

Aku adalah aku dengan segala sisinya, dan dengan segala yang ada padaku aku harus menggunakannya dengan sepenuh hati dan jiwa untuk terus dan terus berjuang mengarungi pengembaraanku. Kelebihanku adalah sebuah modal berharga dalam pengembarannku, seperti halnya kelemahanku adalah sumber inspirasi untuk mencari dan mencari energi untuk mengarahkannya, sekaligus berusaha merubahnya menjadi sisi yang positip.

Aku adalah aku dengan segala sisinya, dan aku yang kini hidup adalah aku yang berusaha proporsional melihat kehidupanku dengan segala pernak perniknya. Aku yang kini hidup adalah aku yang tidak lagi berambisi melihat dan mendamba adanya kesempurnaan pada diriku juga pada dirmu dan pada orang lain, untuk menjadi sosok yang sempurna, sesempurna angan dan ambisi yang ada dibalik ketidaksempurnan.

Jika aku adalah sosok yang tidak sempurna, mengapa aku harus mendamba jiwa lain, dirimu dan dirinya harus menjadi sosok yang sempurna ?.

Dan sungguh aku merasa lebih damai dengan prinsip sederhana ini, ketika aku bisa berdamai dengan takdirku, seperti halnya aku bisa berdamai melihat segala kelebihan yang ada pada ruh diluar sang diri. Aku bisa menerima adanya kelemahanku, sepertihalnya aku lebih terbuka menerima adanya kelemahan pada diri diluar sang diri, juga pada dirimu. Kelemahan adalah sebuah keniscayaan, dan letak masalah sesungguhnya bukan pada kelemahan itu sendiri, tetapi pada penyikapan kita terhadap adanya kelemahan itu sendiri.

Aku bisa mencintai diriku dengan segala kelebihan dan kelemahanku, sepertihalnya aku akan selalu berusaha untuk mencintai dan menyayangi ruh di luar sang diri, dengan segala kelebihan juga kelemahannya. Aku tidak akan bertanya apa kelebihanmu dan apa saja kekuranganmu, karena tanpa engkau menceritakannya, aku sudah tahu jika pasti ada setumpuk kelebihan bersemayam dalam dadamu, bersama segunung kelemahan bercokol dalam sisi dadamu yang lain.

Aku hanya ingin berkata, aku bisa menerima ruh lain, ruh mu dengan utuh. Aku berjanji untuk mensyukuri segala kelebihanmu dan aku akan mencintai segala kelemahanmu seperti halnya aku mencintai kelebihanmu.

Aku tidak akan pernah meminta engkau, siapapun adanya dirimu untuk bisa mencintai kelemahanku, untuk mencintai diriku dengan utuh, seutuh langit dan bumi, seutuh terang dan kegelapan. Karena bagiku, bisa mencintaimu dan mencintai orang lain dengan tulus dan utuh telah cukup untuk membuatku tersenyum dan merasa bahagia. Aku tidak akan pernah menuntut engkau untuk mencintaiku, karena aku hanya bisa berjanji untuk hanya mencintaimu dengan seutuhnya, berjanji untuk memberikan yang terbaik dari diriku untukmu, memberikan yang terbaik dari ruhku untuk membuatmu selalu tersenyum dalam damai, tersenyum dalam suka maupun duka, tersenyum siang maupun malam, tersenyum sampai engkau berada dalam tidur panjangmu. Aku hanya ingin memberi, karena yang aku tahu, hakikat dari cinta adalah ketika kita bisa memberi kepada orang yang kita cintai.

Aku tidak akan pernah menuntut engkau untuk menerima kelemahanku, karena bagiku, ketika engkau bisa merasa damai dengan cinta yang aku berikan, itu sudah cukup bagiku untuk merasa berarti dalam pengembaraan diriku.

Dalam surat cintanya kepada kepada May Ziadah, Kahlil Gibran mengatakan : Setiap hati mempunyai kodratnya sendiri. Setiap hati punya arah istimewa. Setiap hati punya tempat untuk menyepi, disitulah tempat istirahat guna mencari pelipur lara dan duka. Setiap hati mendambakan hati lain yang dapat bersatu guna menikmati berkah kehidupan dan ketentraman atau melupakan kepedihan hidup dan penderitaan.

Dan aku tidak akan menuntut engkau untuk bisa menjadi pelipur laraku, karena aku hanya ingin diriku bisa menjadi pelipur lara bagi segala dukamu, melupakan segala kepedihan hidup dan penderitaanmu.

Kini aku baru mengerti tentang makna ikhtiar dan esensi dari kata tawakal, aku baru menyadari akan pentingnya bisa memahami dari pada sekadar untuk meminta dipahami. Aku semakin tidak kuasa walau hanya untuk mencibir dan menyalahkan orang lain, sepertihalnya aku semakin ingin mencintai daripada mengotori hati dengan kata benci. Kini aku belajar untuk bisa semakin bijak memandang makna takdir dan keputusan Sang Pembuat Takdir, seperti halnya aku ingin bisa merasakan setumpuk mutiara makna dari setitik peristiwa yang terjadi dalam setiap episode kehidupan, baik episode menyenangkan ataupun episode yang lebih menguras air mata dan kepedihan dihati. Kini aku semakin menyadari jika Sang Kuasa jauh lebih mencintaiku daripada cintaku pada diriku sendiri, jika Sang Pencipta menyayangiku dan hanya ingin memberikan makna hidup yang terbaik dalam pengembaraan hidupku. Kini aku semakin mengerti, jika aku ingin mendapat mutiara cinta makhluk-MU bersemayam dalam hatiku, terlebih dahulu aku harus mempersembahkan mutiara terindah cintaku kepada Rabb ku. Jika aku ingin mendapat cinta suci sesuci penciptaan diriku, aku terlebih dahulu harus mentuluskan cintaku pada sang pemberi makna cinta itu sendiri.

Aku adalah aku dengan segala ketidaksempurnaanya. Engkau adalah engkau dengan segala ketidaksempurnaannya. Aku dan engkau adalah sama tidak sempurnanya.

Cinta tidak memberikan apa-apa kecuali hanya dirinya,
Cinta pun tidak mengambil apa-apa dari dirinya,
Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki,
Karena cinta telah cukup untuk cinta.
(Gibran)

Cinta itu sebatang kayu yang baik.
Akarnya tetap di bumi, tapi cabangnya di langit
Dan buahnya lahir di hati, lidah dan anggota badannya.
Ditunjukan oleh pengharuh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan,
Seperti ditunjukkannya asap dalam api dan ditunjukkannya buah dalam pohon.
(Ghazali)

Terimakasih engkau telah sudi mendengar bisikan dalam hatiku. Engkau mungkin tidak akan pernah mengerti tentang apa yang telah aku tulis ini. Tapi percayalah jika aku bisa mengerti tentang apapun yang belum sempat engkau ungkapkan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cahayanya dalam dalam dadamu, semoga tuhan senantiasa melindungi mu, karena Dia mencintai-Mu.

Ketika Cinta Di Salahkan…

ya robby…

andai cintaku padanya…
se-tulus cinta khodijah pada Muhammad saw
se-murni cinta aisyah pada tambatan hatinya Muhammad saw
se-indah cinta julaiha kepada Yusuf as
se-besar cinta fatimah azzahra pada kekasihnya Ali bin ai tholib
dan engkau meridhoinya

maka…
sampaikanlah cintaku padanya
namun…
bila ini hanyalah sebuah ego
bila ini bukanlah cinta
bila Engkau tak merihoi
hambaMu ini…
rela melepasnya…
karena cintaku padaMu
lebih besar darinya…
lebih tulus darinya…
Engkau lebih kurindu darinya…

ya ilahi….

Seperti siang yang selalu mengusik ketenanganku Gubraks!
Seperti malam yang selalu kutunggu Senyum simpul
Seperti sesosok manusia yang selalu menemani hari – hariku
Seperti angan yang selalu ada di benakku
Dan seperti malam yang selalu menertawakan kehadiranku Ngakak

Aku adalah sebuah khayalan Huh
Yang selalu hadir si setiap detik jantungku
Menjadi hamba impian yang sulit kugapai
Dan musnah di telan waktu

Sekeping hatiku bagaikan untaian meriam
Yang akan dihancurkan oleh siapa pun
Bathinku terisak penuh keputus asaan
Tersiksa
Ya, mungkin itu yang kurasakan sekarang

Tuhan,
Biarkan aku pergi jauh
Memenuhi keinginan hatiku
Biarkan aku hidup diantara orang2 yang selalu menyayangiku
Biarkan Keindahan itu jadi milikku
Untuk selamanya

Seseoang itu bagaikan pusaran hati yang selalu mengecewakan Pilu..
Cita dan cinta yang kulempar jauh seakan mendekat
Lalu pergi meninggalkanku
Hatiku hancur, Hiks..
Namun kusadari aku hanyalah seorang hawa yang tak berarti baginya

Robby… jika rindu yang terangkai ini adalah di jalan-Mu
maka kukuhkanlah ia dengan kesabaran yang purna
dan jika Engkau ridha…
maka perkenankanlah ya Robb…
agar Rindu ini segera menemukan muaranya…

Ya Rabby, semua yang telah engkau gariskan pasti adalah yang terbaik untuk hidup hamba mu  ini,
Jangan biarkan hamba berputus asa atas rahmat-Mu,
Bimbinglah hamba tuk senantiasa ada di jalan-Mu,
Pilihkanlah yang terbaik menurut-Mu,

Ya Allah, jika aku jatuh cinta , cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu… Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cinta ku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu…

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu…

kusadari bahwa hidup ini adalah anugerah yang diberi
kewajibanku adalah memilih jalan mana yang nantinya akan memberikan tujuan akhir
masih mencari bagaimana cara terbaik bersyukur kepada Sang Penggenggam Jiwa
setiap onak kutahu adalah cara Nya dalam menyayangiku
namun masih saja aku diliputi kebingungan dalam mencari jalan yang baik untuk bersyukur
bersyukur….
ya, bersyukur