Surat Untuk Cintaku…
Sebenarnya surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai engkau yang mampu
melumpuhkan hatiku. Surat ini ingin kuselipkan dalam satu kehidupanmu, namun aku
hanya lwanita yang tak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua
percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatiku. Aku hanya dia yang engkau
anggap tidak lebih, aku hanya merasa seperti itu.
Assalamu’alaikum
wahai engkau yang melumpuhkan hatiku
Tak terasa telah sekian aku memendam
rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan
aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu,
aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat aku berbicara denganmuu, aku ingin tetap berlaku
dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
Takukah engkau wahai
yang mampu melumpuhkan hatiku? Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta”
kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan
aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku
teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai
walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin
aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk
mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi
adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak
mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangkaku berbicara bahwa engkau tak mencintaiku dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa
dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti
bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku. Ketentramanmu adalah buah
cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus
mengalah.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa
kepada Tuhan, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku
mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang
membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandangmu, namun satu
pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta,
tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
Banyak
lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat.
Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu tentang dia
karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk
membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangmu terhadapku.
Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa
yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang
indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).
Wahai engkau yang telah melumpuhkan
hatiku, mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun
saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku
hanya akan kuberikan kepada ArjunaI-ku. Wahai engkau yang telah melumpuhkan
hatiku, tolong bantu aku untuk meraih arjuna-ku bila dia bukanmu.
Aku yang tidak mengerti diriku…
Ingin ku meminta kepadamu,
sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak hadir kembali dalam kehidupanmu! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku
berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera
berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu… aku takut tak
akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang
lain.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup
surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti
saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin
kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau
mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian
dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah
menahan perih rindu yang begitu mengguncang.
SALAHKAH AKU…??
Wahai engkau yang sekarang kucintai,
Salahkah aku, yang menyayangimu, tanpa pernah bertanya siapakah
dirimu, apakah yang kau miliki?
Salahkah aku menyanyangimu hanya karena
kau adalah dirimu, dengan segala kelebiohan dan kekurangan dirimu.
Kurangkah rasa sayang ini, salahkah aku yang tak pernah mempertanyakan
apakah kau menyayangi aku seperti aku menyayangimu?
Aku berkata dengan kejujuran yang aku miliki, bahwa aku memilih
dirimu.
Salahkah aku, yang tak peduli dengan badai yang akan meghadang
di depan, dengan kesulitan apa yang akan aku hadapi.
Salahkah aku, jatuh cinta kepadamu?
Salahkah aku yang selalu berdoa
untuk kebaikanmu?
Salahkah aku, menjalani har demi hari bertanya apakah
aku cukup pantas untukmu?
Salahkah aku jatuh cinta padamu hanya dalam
waktu yang singkat?
Salahkah aku yang merasa bahwa kau telah memberikan
seluruh isi dunia untukku.
Haruskah aku pergi?
"Salahkah aku… "
Dua kata yang setiap malam yang
kutanyakan pada diriku hanya salahkah aku menyayangi mu…
Kenapa kau
hadir dalam hidupku dan memberikan warna lain dalam hidupku..
Membuat
aku menyayangimu bahkan diam-diam mencintaimu…
Dedicatedto : Letda Mar Teguh Pranoto
Comments(2)